abaikan kesendirian

Sendirian.
Satu kata yang sepertinya menyeramkan, menyedihkan dan menakutkan.

Diabaikan.
Satu kata yang rasanya menyebalkan, menyedihkan dan tidak diinginkan.

Tapi, ada kalanya saya menginginkan dan membutuhkan dua kata itu. Sendirian dan diabaikan. Tidak semua orang ingin dihibur saat sedih. Tidak semua orang menginginkan uluran tangan saat terjatuh. Sungguh. Tidak semua orang.

Kadang saya suka sendirian. Saat sedih. saat ingin introspeksi. saat ingin menangis.

Kemarin teringat argumen salah seorang sahabat yang ngedumel;
“diingetin baik malah marah2..!!” atau “ditolongin ga mau!!” atau “Ih! ga bisa menerima kebaikan..”
Dan mungkin keluhan orang yang merasa bahwa saya keras kepala dan tidak bisa dinasehati atau tidak bisa dibilangin.

Atau, seorang sahabat yang sakit hati, karena orang yang ia coba temani ngga mau ditemani. Lebih memilih sendiri dan menjauh. Dan malah meninggalkan sahabat yang jadi sedih dan berpikir keras; “Apa salahkuuuuu….?? kenapa dia ga mau curhat sama akuuuu?? apa aku kurang baikkk..??” Ujung2nya sahabat jadi negatif; menganggap si penyendiri ini orang yang aneh dan tidak bisa menghargai kebaikan orang lain.

lalu muncullah saya sebagai penasihat kesiangan🙂
“Loh koq jadi lo yang negatif? Kebaikan yang kita perbuat belum tentu menjadi kebaikan/menyenangkan juga buat orang lain. Begitu juga dengan kejahatan yang orang lain perbuat ke kita, belum tentu kejahatan/menyakiti/mencelakakan kita. Ada orang yang memang memilih untuk sendirian di saat2 tertentunya.Bukan berarti masalah itu ada di elo, tapi emang dasarnya orang itu ga mau berbagi masalah. Dan itu satu keragaman dan pilihan yang harus dihargai dan tidak bisa diganggu gugat.”

saya paling ga suka, saat ada masalah trus ditatap dengan penuh simpati dan rasa kasihan yang berlebihan. Rasanya depresif. Atau, saat lagi sedih, diceritain hal2 yang lebih menyedihkan yang diawali kata: “Lo sih masih mending, kalo gw dulu malah bla..bla..bla..”. hiyah.males.

Sungguh deh,bukannya menghibur,bagi sebagian orang itu namanya memonopoli cerita.

Mari toleransi, berbeda tidak menjadikan satu lebih baik dari yang lainnya.

Sincerely,

comments here :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: