Menahan dendam

Nahan dendam adalah hal yang paling gw hindari dalam hidup. Sama kayak membekukan prasangka buruk. Membekukan dalam artian menyimpan prasangka buruk tersebut ditempat terdingin sehingga tersimpan awet selama bertahun2 dan prasangka tersebut membusuk menjadi dendam.

Gw bisa dibilang sebagai orang yang jaraaaaaaaaang sekali punya prasangka buruk. Berteman dengan berbagai macam tipe orang makin meluaskan pandangan gw untuk tidak membekukan suatu prasangka buruk. Gw beberapa kali tertipu, dibohongi atau di khianati oleh orang yang sama. Tapi gw ga dendam. Sakit hati, ya. Kecewa, banget. Tapi tidak mendendam alias menyimpan prasangka buruk yang sudah busuk.

Gw cenderung membiarkan orang2 yang menggunjingkan gw. Selama gw ga denger, maka gw ga akan sakit hati. Dan ketidakpedulian gw itu menolong gw dalam melawan rasa penasaran. Yeah, kadang sikap masa bodo lebih baik dalam menghadapi gunjingan atau fitnahan. Selama ga merugikan gw secara moral dan material.

Gw sendiri pernah berprasangka buruk. Bahkan terhadap sahabat2 gw sendiri. Rasa sebel dan kecewa, sebagai manusia pasti ada. Tapi satu hal gw sadari dengan pasti, gw sendiri bukan teman yg sempurna.Dan prasangka2 gw itu bukanlah hal yg penting yang harus dipermasalahkan sampe bertahun2.dan disimpan untuk jadi bahan permasalahan.

Saat gw berpikir buruk ttg temen baik gw, yg gw lakukan pertama adalah fokus sama kebaikan2 dia dan kekurangan2 gw. Misalnya: dy ga pernah mau dateng ke rumah gw? tapi dy selalu senang hati menerima gw dan menjamu gw ditempatnya. atau, gw ga pernah ditelpon?seengganya dy selalu ada saat gw pengen curhat dan melayani curhatan gw yang panjang lebar di jam berapapun. Dengan begitu, gw ga akan terlalu mempermasalahkan prasangka gw lagi dan melupakannya. Ya. Harus dienyahkan supaya tidak tersimpan dengan sengaja.

Misalnya ga berhasil, selanjutnya yang gw lakukan saat merasa menyimpan prasangka buruk adalah MEMBICARAKANNYA. ENtah langsung pada yg gw prasangkain, atau sama sahabat lain yang netral dan positif thinking. Dan dalam membicarakan itu, gw mengatur tujuan gw adalah untuk menghilangkan prasangka buruk, bukan untuk mencari dukungan.

yang kedua adalah PERCAYA. Apapun alasan/penjelasan teman baik gw atau sahabat gw lain dalam mengkonter prasangka gw, gw harus membuka telinga dan hati seluas2nya. Yakini sepenuhnya dengan tulus bahwa yang gw rasakan itu bukan hal yang benar.

Kalo setelah berbagai penjelasan tapi prasangka itu ga bisa hilang. Maka ABAIKAN. Dan jangan pernah anggap diri yang berprasangka itu patut berprasangka. Karena dengan begitu maka gw temen yang buruk. Dan ga pantes menuntut apa2 sebagai teman.Ga tulus.

Intinya sih, daripada menahan dendam, lebih baik menahan diri.

gw ga bisa mengontrol orang lain untuk bersikap sesuai keinginan gw, tapi gw bisa mengontrol diri gw sendiri sesuai etika ga tertulis dalam bersosialisasi.

ttd,
perempuan jahat bergaya yang punya etika haha haha
😀

comments here :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: