menikah tidak untuk bercerai

Yah,..gw rasa hampir ngga ada orang waras yang berpikir tentang perceraian saat mau menikah. Ngga ada, kecuali gw. Well, gw juga ga masuk itungan secara gw juga kadang kurang waras kali ya..(baca: emosional dan kurang jernih berpikir)

Dan ga ada orang yang bisa siap menghadapi perceraian. semenderita apapun kondisinya. Seburuk apapun pasangan hidupnya. Perceraian tentu aja bukan hal yang diinginkan.

Gw jadi inget beberapa waktu lalu, ada seorang kontak di FB yang nulis statusnya kira2 begini(duh gw lupa pastinya):
“masya Allah, Ustadz.. Sampai hati kau lakukan itu.. Perceraian bukanlah jalan satu2nya. Ingat putrimu masih kecil!!..blabla berbahasa arab gitu..”
Trus, ditanya sama temennya yg gw ga kenal; “siapa, bu..?”
Dijawab ma kontak gw.. “itu,..ustd.A” nyebut nama. Gw ga kenal sama ustadz yg dimaksud.
Trus ada temen lainnya yang komentar; “Wah, sampe disebut loh namanya.. kasian lah, bu..”
Dijawab lagi ma kontak gw; “Biarin…biar aja..biar sadar..”

Duh. Gw miris. Begitu mudahnya dihakimi (dan diklaim tidak sadar) saat pernikahan gagal. Dan sialnya buat si ustadz, dia dihakimi di ruang publik. Sayang gw ga kenal ma tu ustadz, kalo kenal, pasti gw belain,..hihi.. Eh iya, btw, bukan kontak gw lagi deng..mantan kontak FB..:p

Pernikahan, Esensinya adalah 2 pribadi. Yang tau bagaimana pernikahan itu sesungguhnya ya hanya 2 orang itu(dan Tuhan). Gw selalu bersimpati sama orang yang pernikahannya gagal. Apapun sebabnya. Gw yakin selalu ada sebab akibat. Saat rame2nya orang menghujat KD saat berselingkuh, gw bersimpati, imbang ke 2 pihak.

Ga semua orang bisa mendapat pasangan yang sesuai keinginannya. Dan sebagian besar orang bertahan dalam pernikahan yang tampak luar sempurna padahal menggerogoti jiwa dari dalam. Karena 2 alasan utama, anak(anak) dan publik. Sungguh alasan yang mulia dan ga egois. Tapi kadang mereka lupa, kalau anak2 itu peka. Kebersamaan yang dipaksakan dan penuh keluhan dan pengorbanan bisa lebih melukai dibandingkan dengan perpisahan yang penuh ketulusan. Dan publik? menurut gw, heck with the public. Kesehatan mental dan kedamaian hati itu lebih penting. Kedamaian hati dan kebahagiaan juga sesuatu yang ga dapat dipisahkan. Sehatin jiwa dulu, baru berbakti pada lingkungan.

Perceraian. Ga ada yang mau mengalami itu. Tapi bukan berarti hal tersebut mati2an ditentang dan pelakunya bisa dihujat. Iya, paling dibenci Tuhan. Tapi bukan berarti harus bertahan didalamnya dan menyakiti diri sendiri. Gw percaya Tuhan ga menginginkan makhluknya untuk menyiksa diri sendiri ataupun disiksa orang lain. Dia memang membenci perceraian. Itulah sebabnya kenapa masing2 orang harusnya bisa bijak dalam memilih pasangan hidup dan menentukan alasan untuk menikah.

Gw mendukung perceraian. Untuk orang2 yang disia2in pasangannya. Untuk yang dikhianati lalu ga bisa percaya lagi. Untuk yang disakiti secara psikis maupun fisik. Untuk yang sudah dipikirkan matang2 dalam waktu yang ga singkat, tapi segera untuk keselamatan diri.

Gw mendukung perceraian, untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Soal anak2, selama orang tua masing2 sadar untuk memberi pengertian, dukungan dan kasih sayang yang penuh dan ga putus, gw yakin anak2 bisa tegar dan menerima. Ga cuma orangtua yang merasa kebahagiaan anak2 adalah kebahagiaan mereka. Pada tahap kedewasaan tertentu, anak2 pun akan merasa kebahagiaan orang tua adalah kebahagiaan mereka juga.

It is bullshit with the broken home reason for those who choose to take drugs, free sex and other bad stuffs for their future. It’s a matter of choice. It’s a matter of home(or mom) education. It’s a matter of their own strength in dealing with problems and feelings.

Banyak koq anak2 yang orang tuanya bercerai, tapi tetap bisa berprestasi dan berakhir dengan membangun keluarga bahagianya sendiri. Dan, banyak juga orangtua2 yang ga bercerai, namun memiliki anak yang ga bersyukur dan malah menjerumuskan diri ke hal2 yang ga baik. Ga ada yang namanya anak2 “korban” perceraian. cape deh.
=====================================================

Mengomentari perceraian orang lain, sama halnya kayak mengomentari wajah Tuhan. Ga ada yang tau hal yang sebenarnya terjadi. Misalnya pun salah satu pihak curhat(ke media ataupun ke gw), gw ga pernah berhak membuat penilaian. Pernikahan itu kan pilihan. Dan pilihan yang gagal tentunya bukan kemauan.

Simpati itu penting, tapi kasihan itu ga perlu. Dukungan sebagai teman itu harus, tapi ikut campur dan mengomentari itu sangat tidak perlu. Memberi masukan atau saran itu baik, tapi menasihati itu rasanya ga tepat.

==================================================

Pada akhirnya gw berharap hal2 buruk ga akan terjadi ke pernikahan gw nanti dan orang2 disekeliling gw.
Gw berharap gw dan pasangan gw nantinya sama2 mau berusaha dan selalu mengupayakan yang terbaik untuk pernikahan. Sama2 mengusahakan kenyamanan masing2. Pernikahan itu usaha 2 pihak. Ga akan bisa berjalan kemana2 kalo cuma satu aja yang berusaha. Ketidakpedulian itu menghancurkan. Gw mending bercerai daripada diabaikan suami gw sendiri. Jangan sampe..! *ketok2meja, nyebut.

Dan gw bukanlah orang yang paham dan mengerti untuk berbicara mengenai dosa atau hukum2 agama dsb.
Gw cuma bisa merasa.

4 responses

  1. 1.Yaeelaaahh..masih aja tu orang kaya gitu..??😀😀
    2.Ustad sape siy? ada di infotainment ga? *penasaran*
    3.Another couldn’t more agree with you.. perceraian,status janda,ga ada orang yang pengen itu semua,tapi kalo pasangan udah mulai nyiksa batin bahkan fisik?? disadarin trus ga sadar-sadar? hiii..serem..amit-amit jabang bayi…
    4.”Semua yang terlihat tidak sesederhana yang kelihatannya” berpendapat sih oke-oke aja,tapi kalo ngutuk seseorang..hmmh..pastikan dulu lebih dari tiga sudut pandang kita lihat dari suatu masalah😀😀😀

    1. 1. Urusan “masih-ngga”-nya gw ga tau..😀
      2. tapi yang pasti sih bukan ngomongin seleb.. gw ga kenal..lingkungan antar mereka koq,..
      3-4. yups.. kadang yang pandai dan ber”ilmu tinggi” emang suka menyepelekan masalah orang lain.. sibuk mencari kesalahan untuk dijabarkan..😦

  2. tulisan’a keren, kak. aku setuju banget.
    tapi keseringan “merasa” juga ga enak bukan, kak? hehehehe..ntar jadi mbak-mbak sensi loh…
    *jyoudan*

    1. Alhamdulillah dipuji..ihhiy..!!
      kadang lebih baik sensi daripada tambeng…:p
      heheheeh…

comments here :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: