Bertanya=provokasi=ngajak perang?

I’m on twitter.

Di twitter, orang bisa saling berkomentar cepet banget. Satu topik dengan cepat dikomentari siapa saja. Menarik banget sih menurut gw. Banyak hal2 dan informasi baru. Begitu ada topik sensitif, menyangkut SARA misalnya, langsung bisa ditelusuri deretan komentar yang beragam, baik yang pro dan kontra. Sampai yang bersifat hujatan, kecaman, makian dan seterusnya dan seterusnya.  Kalo ga punya pemikiran (minimal) seluas parasut dan hati seluas samudra sih, bisa kepanasan sendiri. hehehe.

Gw ga terlalu banyak ‘mengikuti’ orang. Non-teman yang gw ikuti biasanya dipilih secara hati2. Yang (menurut gw) cerdas berpendapat, dan suka me re-tweet hal2 yang menggoda iman, eh.. menggoda rasa ingin tahu gw, maksudnya.

Kemaren gw sempet(ga sengaja) memancing kemarahan seseorang di FB, karena me-repost pertanyaan di Twitter ke FB.  Pertanyaannya menurut gw sangat simpel. Sangat sangat sangat simpel. Dengan jawaban yang seharusnya bisa sangat sangat sangat simpel juga.

Pertanyaannya gini:

Itu mesjid2 dan musalla2 didirikan di mana2 pada ada izinnya gak ya?

Tiba2 aja, beliau komen di postingan gw itu dengan nada marah2.

“Woi kalu coment jgn bawa2 agama, yg jekas anda brada di negara yg nenek moyang nya dulu bergama islam. Paham”

berhubung gw kepancing juga, jadilah gw balas dengan tulisan:

Woi.. siapa yg komen bawa2 agama? Orang lagi nanya, pake izin atau ngga. Anda jangan mudah terprovokasi. Macam ga diajari kesabaran aja. Paham.

Nah, trus dibales lagi:

C****… Lo orang intelek sudah tentu kan btw apa maksud pertanyaan lo, n knapa lo nanya disaat situasi lg kritis dengan isu sara yg terjadi di bekasi. Mungkin pertanyaan itu gak pantes di jawab tp lo mungkin bs jawab sendiri…”

nahnah..gw bales lagi deh.. ni replyan udah rada ademan karena ada yg nge-reply dengan nada nengahin.

Kalo menurut gw, saat suasana kritis, lebih baik mengajukan pertanyaan daripada mengumbar asumsi, pernyataan dan emosi. Klo emang lo ga bisa jawab, ya ga usah ngomel2. Klo lo bisa jawab, ya jawab aja baik2 biar jelas. semua juga bisa aja dikait2in sama isu sara. No comment lah soal intelektualitas.

dipikiran gw, gile aja ngebahas intelektualitas, lha ni orang aja mikirnya pake otot sampe2 ngereply ucapan minal aidin dgn;  “sama2, btw norak lo.”

 (wtf?!!!)

===================================================

Hmmm..

Saat gw ngepost ataupun me-re-post suatu kalimat, pernyataan ataupun pertanyaan di akun pribadi dimanapun di Internet. Hal tersebut sudah gw pikirkan matang2 dan tidak sembarangan asal posting/re-post. Maka gw secara pribadi lahir dan batin sudah siap akan segala konsekuensinya.

Buat gw pribadi, saat ada yang mempertanyakan sikap atau kebijakan Agama gw, gw yakin – seyakin2nya- bahwa ada jawaban yang memuaskan si penanya.

Dan contoh kasus diatas, adalah satu contoh buruk, menurut gw, buruk banget mengenai kesabaran seorang muslim.

Gw yg (merasa sebagai) muslim aja, nanya begitu langsung dipertanyakan intelektualitasnya, gimana kalo gw adalah non-muslim? Apa gw (yg non muslim nulis/)  nanya begitu trus langsung di cap cari perang?

Bertanya buat gw adalah membuka diri untuk jawaban. Bukan untuk cari perhatian ataupun ngajak debat ataupun cari masalah. Gw gak akan bertanya kalau sudah punya kesimpulan sendiri dan tidak berniat mengubahnya. Gw bertanya untuk mencari masukan, opini kedua ataupun pendapat lain. Dan gw bertanya bukan untuk berdebat.

Buat gw, menjadi Islam adalah cara hidup terbaik, bukan sekedar agama. Dan cara hidup itu ga bisa dipaksakan kepada orang lain. Namun bisa dijelaskan kepada yang bertanya. Islam dan kesabaran mampu menjawab segala pertanyaan apapun tanpa perlu merasa tersinggung.

Menurut gw pribadi, meskipun Hukum Islam adalah cara hidup terbaik dan terjelas, memilih Islam sebagai cara hidup tidak menjadikan seseorang sebagai pribadi yang lebih baik daripada yang tidak memilih Islam. 

Bahkan mungkin menjadikan orang tersebut pribadi yang lebih buruk/berdosa daripada yang tidak (memilih) Islam, karena sudah tau Hukumnya, tau yang harus dijalani, tau harus sabar, tau harus ikhlas, tau harus mengutamakan kedamaian dan keselarasan, tau tidak boleh  –iri,dengki,khianat,su’udzon,bergosip–, namun masih aja lalai menjalaninya.

Maapan mah maapan tetep aja kalo lewat ngelengos… :p Duh mudah2an gw bisa ga gitu nanti. Dengan tulus.

Wallahu’alam.

Mohon maaf lahir Batin..:)

comments here :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: