Rumpian Opis

Di kantor, aku menempati ruangan bersama 7 orang lainnya…

Kami disatu ruang itu masing2 adalah si muslim religius, Kristiani religius, Budhis religius, protestan religius, hinduis religius, atheis dan monotheis sekaligus priyayi jawa, sunda, bali, betawi, maluku dan ekspatriat sekaligus pria, wanita dan diantara keduanya.

Aku tau,.. aku terdengar terlalu rasis dalam deskripsi ini.  Dan yang akan aku tulis selanjutnya bukanlah hal yang menyenangkan untuk dibaca semua penganut paham diatas. Tentang satu kelakuan.

Pernah ngalamin di telfonin sama orang2 yang nawarin kartu kredit, pinjaman bank atau produk2 lainnya? Bahasa kerennya telemarketer. Nah, nyebelin kan kalo sehari bisa beberapa kali ditelfon sama orang2 yang jualan itu.. Udah gitu kadang ada yang maksa… nyerocoooos mulu susah dihentikan.

Well, yah.. terlepas dari betapa menyebalkannya dapet telfon2 penawaran2 itu, gimana sih seharusnya kita bersikap?

Kami bertujuh, bergantian atau kadang berbarengan nerima telfon2 itu. Kadang kami menyebutnya telemarketer day, atau teler day. Biasanya seputaran rabu-jumat. Saat diantara kami bertujuh menerima panggilan teler ke 5, berarti hari ini adalah hari teler. Dan berlanjut sampai sore.

Gaya2 yang umumnya digunakan untuk merespon biasanya dari menjawab dengan baik lalu menolak halus, sampai dengan marah2 lalu menutup telfon. Biasanya kalo si penelpon itu ngeyel gak mau ditolak. Dari ucapan: “Maaf ya Mbak, saya gak tertarik.. Siang.”klik. Sampai rada teriak: “Tolong ya! Saya bilang TIDAK. SIANG.” KLIK. Tapi gak jarang juga si penelpon teler itu diladeni dengan manis, karena suaranya enak dan cara bicaranya menyenangkan, walaupun ujung2nya bilang ngga. Biasanya yang lagi iseng dan boring tuh, ngedengerin penelpon teler.

Sampai suatu ketika, diantara kami ternganga-nganga, berpandangan marah, geram, kasian, aneh, jijik dan sedih melihat cara salah satu dari kami merespon penelpon teler.

Ia mengangkat telfon, menjawab dengan baik, menyahut dan memberi respon seakan tertarik. Di saat kami berpikir ia sungguh2 tertarik dengan tawaran si penelpon, ia meletakkan telfonnya dimeja lalu pergi keluar ruangan. Tak sampai beberapa saat, kami mendengar sayup2 teriakan ‘Halo?! Halo?!” dari mejanya.  Yang ternyata berasal dari sambungan hp yang tidak ia matikan. Sengaja ia pancing si teler bicara panjang lebar, lalu saat si teler semangat menjelaskan, ia letakkan telfon dan pergi.

Bos kami tersenyum kecut kepadaku, geleng2 kepala. Kepalaku mendidih. Marah. Rasanya ingin kubanting telfonnya itu. Muak.

Telemarketer perempuan itu sudah mematikan telfonnya. Aku ga bisa ngebayangin perasaan mbak telemarketer itu.

Sekurang2nya cara mereka, pantaskah ia mempermainkan seseorang yang berusaha bekerja untuk menghasilkan uang?

=====================================================

Bersambungan dari beberapa paragraf yang aku tulis diawal post ini.  Aku menduga, bahwa kalian yang muslim mungkin berpikir; Ia pasti bukan muslim.

Dan kalian yang kristiani mungkin berpikir; Ia ga mungkin seorang kristiani.

Begitupun yang moderat: Moderat tidak bersikap seperti itu!!

Atau yang atheis? Bahkan yang atheis mungkin berpikir: Tidak bertuhan bukan berarti tidak punya hati.

Dan yang Hindu? Budha? Protestan? Konghucu? Jawa? Bali? Ekspat? Sunda? Betawi? Ambon?

Well, biar saya yang bilang; Hanya manusia berhati kadang busuk yang mampu melakukan itu!!!!!

2 responses

  1. gw juga kesel kalo ditengah-tengah rempong jam kerja ditelepon cuma untuk nawarin kartu kredit, tapi mancing seseorang untuk ngomong panjang lebar trus ditinggalin..itu well…awful..

    lebih baik di-cut dari pertama, sebetulnya darah gw mulai mendidih sejak pertama denger “Kami dari Bank Anu mau nawarin kartu kredit..” (apalagi kalo lagi sibuk banget kerjaannya) tapi detik berikutnya gw selalu berpikir gimana kalo gw yang jadi mereka… dan semua kalangan bisa melakukan hal yang seperti orang yang lo ceritakan..awful…

    1. Betul, selalu pikirkan kalau kita yang diposisi mereka..
      Dan selama itu bukan tentang khianat, gw berusaha menghindari pikiran/kata2 “Kalo gw gak akan seperti itu.” AWWWW-Full.

comments here :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: